There Are Brighter Sides to Life, But Not Very Often
Dari lirik lagu Still Ill - nya The Smiths ini, selalu membuat saya berkaca - kaca di bait ini
For there are brighter sides to life
And I should know, because I’ve seen them
But not very often.
Padahal sering banget dengerinnya, bahkan hampir ribuan kali dan sepertinya lirik ini bukan tentang kesedihan. Ini juga bukan tentang optimisme.
Ini seperti pengakuan tentang sesuatu yang sukar dijelaskan, bahwa hidup menyimpan kemungkinan -kemungkinan yang luar biasa, namun itu tidak selalu menampakkannya kepada kita secara langsung.
Mungkin sering membayangkan hidup sebagai rangkaian hari yang berjalan lurus.
Bangun, kerja, makan, tidur. Default hidup manusia sekarang yang berulang hingga terasa seperti gurun yang tidak berujung. Namun disela - sela itu, sesuatu terjadi sesuatu seperti
Percakapan.
Menikmati lagu kesukaan.
Merencanakan sebuah perjalanan.
Bahkan Mungkin
Dipertemukan dengan seseorang yang datang pada waktu yang tidak tepat
Dan
Semua keputusan kecil itu tampak biasa saja.
Namun di lain hari secara tiba - tiba kita merasa berbeda di dunia ini. Bukan karena permasalahan di hidup ini menghilang atau bukan juga semuanya terasa mulus dan sempurna. Melainkan setelah beberapa saat, ketika melihat kemungkinan lain di kehidupan ini, seolah - olah ada sebuah pintu terbuka dan memperlihatkan dunia yang lebih luas daripada di kira.
Still Ill tidak mengatakan bahwa hidup itu indah.
Ia juga tidak mengatakan bahwa hidup itu menyakitkan.
Ia hanya mengatakan bahwa kita pernah melihat sisi yang lebih terang dari kehidupan.
Dan kalimat yang membuatnya begitu sinis dari Still Ill itu pada bait
But not very often.
Ini bukan karena sisi terang itu tidak ada.
Justru karena sisi terang itu nyata.
Still Ill pernah melihatnya.
Kita pernah melihatnya.
Tetapi tidak setiap hari.
Jadi teringat sosok “Søren Kierkegaard”, Ia menulis bahwa hidup hanya dapat dipahami ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan.
Itu terdengar sederhana sampai kita menyadari implikasinya.
Sebagian besar titik balik dalam hidup tidak terlihat seperti titik balik saat kita sedang menjalaninya.
Pertemuan yang mengubah hidup sering kali tampak seperti pertemuan biasa.
Kesempatan besar sering kali datang dengan wajah yang biasa.
Hari yang nantinya dikenang selama bertahun-tahun sering kali dimulai seperti hari lainnya.
Kita baru memahami maknanya setelah semuanya berlalu.
Kita melihat ke belakang dan berkata:
“Oh, ternyata hidup saya berbelok di sana.”
Masalahnya, saat sedang berjalan ke depan, kita tidak pernah tahu.
Dan mungkin di situlah letak kesedihan yang tersembunyi dalam lirik Still Ill.
Bukan hanya karena sisi terang itu jarang muncul.
Tetapi karena kita tidak pernah tahu kapan ia sedang berada di depan mata.
Kita takut melewatkannya.
Takut bahwa kesempatan yang mengubah nasib mungkin sudah datang lalu pergi tanpa kita sadari.
Takut bahwa oasis yang kita cari sebenarnya pernah kita lewati.
Namun ada sisi lain yang sering dilupakan.
Jika takut melewatkan keajaiban, itu berarti masih percaya bahwa keajaiban itu ada.
Dan mungkin itulah inti dari lirik tersebut.
Still Ill tidak berkata:
“There are no brighter sides to life.”
Ia berkata:
“I should know, because I’ve seen them.”
Ada kesaksian di sana.
- Bukan janji
- Bukan motivasi
- Bukan optimisme murahan
Hanya pengakuan dari seseorang yang pernah melihat sesuatu yang lebih terang daripada kesehariannya.
Seseorang yang pernah menemukan air di tengah gurun.
Dan karena pernah menemukannya, ia tahu bahwa gurun bukanlah seluruh dunia.
Mungkin itulah sebabnya pada lirik Still Ill ini begitu menyentuh aku pribadi sebagai manusia.
Kita semua pernah mengalami momen yang terasa lebih nyata daripada hari - hari biasa.
Momen ketika hidup tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar hidup.
Kita mungkin tidak tahu kapan momen berikutnya akan datang.
Kita mungkin tidak bisa memanggilnya sesuka hati.
Tetapi fakta bahwa kita pernah melihatnya sekali saja sudah cukup untuk mengubah cara kita memandang perjalanan.
Ada sisi yang lebih terang dari kehidupan.
Aku tahu itu. Karena mungkin aku pernah melihatnya.
Hanya saja, seperti datangnya keajaiban, ia tidak datang di setiap harinya.